Koperasi melawan globalisasi dengan mempertahankan jatidiri

Koperasi sudah dikenal dengan sebutan bank rakyat. Yang berpegang teguh pada pasal Pasal 33 UUD 1945, khususnya Ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”.Dalam wacana sistem ekonomi dunia, koperasi disebut juga sebagai the third way, atau “jalan ketiga”, istilah yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh sosiolog Inggris, Anthony Giddens, yaitu sebagai “jalan tengah” antara kapitalisme dan sosialisme.

Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataannya pada koperasi Indonesia saat ini, belum begitu efektif dalam mensosialisasikan dirinya ke khalayak umum secara menyeluruh, di semua kalangan masyarakat. Padahal saat ini kita telah memasuki era globalisasi yang sedikit-banyak memiliki pengaruh terhadap kondisi ekonomi di Indonesia.

Kenapa?

Karena era globalisasi adalah pintu gerbang bagi semua negara-negara di dunia untuk melakukan perdagangan bebas. Naik-turunnya perdagangan internasional berupa fluktuasi ekspor dan impor akan turut mewarnai wajah perindustrian negeri, karena globalisasi bisa berdampak postif dan juga negatif.

Jika barang impor terlampau menguasai pasar lokal / domestik, maka devisa negara akan berkurang karena sama saja mematikan industri domestik. Sebaliknya, jika Indonesia mampu mengembangkan diri dan terus belajar untuk menjadi lebih baik, koperasi nasional sangat berpeluang besar dan mempunyai prospek cerah dalam hal ekspor, yang nantinya akan menambah devisa negara dan menggairahkan produsen dalam negeri untuk terus berkarya.

Saat ini dunia perkoperasian di negara maju dan di negara berkembang memang tengah menghadapi dinamika arus pasar global dan perdagangan bebas. Pengembangan koperasi nasional pun seharusnya bisa bercermin pada koperasi kelas dunia.

Kompetisi modern memang tidak dapat dimenangkan sendirian. Karena itu, aliansi sangat dibutuhkan untuk menjamin adanya sinergi kemasyarakatan. Bersaing atau berada di tengah-tengah persaingan, merupakan perilaku normal dari badan usaha dalam merebut pangsa pasar. Bekerja sama adalah perilaku luar biasa dari sebuah badan usaha yang mutakhir.

Sumber data : Suplemen Media Indonesia Edisi September 2009, dengan berbagai perubahan.

Sedangkan saat ini semua struktur perekonomian mengalami globalisasi. Apakah sanggup koperasi bertahan?. Ayo kita cari tahu!.

Koperasi dengan globalisasi sangat ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Koperasi dan produk-produk UMKM dapat diapresiasi dengan adil. Sedangkan struktur perekonomian globalisasi hanya mengeksploitasi profit sebesar-besarnya. koperasi lebih menjunjung tinggi kebersamaan karena misinya menyejahterakan anggotanya. Itulah yang harus dipegang teguh oleh koperasi ini. Jangan sampai jati diri itu goyah oleh globalisasi. Koperasi harus di eksploritas lebih agar masyarakat memilih koperasi sebagai mitra yang baik. Kita harus memajukan koperasi itu sekarang juga sebelum terlambat.

Di era globalisasi, keadilan harus tumbuh dalam nurani anggota dan dijabarkan dalam perlakuan adil koperasi terhadap anggotanya. Dalam memanfaatkan hasil usaha, keadilan ini diterjemahkan dalam pembagian SHU anggota, sesuai besarnya jasa anggota kepada koperasi.

Di era globalisasi, kesetiakawanan dalam koperasi adalah kekayaan sangat berharga bagi kehidupan kolektif. Karena, koperasi bukan hanya perkumpulan pribadi sebagai anggota, tetapi anggota koperasi secara bersama adalah suatu kolektivitas.

Bung Hatta melihat kesetiakawanan dalam masyarakat gotong royong dan dengan benar dijadikan sebagai dasar koperasi di Indonesia.

Kesetiakawanan berarti bahwa semua pribadi bersatu membangun koperasi dan gerakan koperasi secara lokal, nasional, regional dan internasional.

Kesetiakawanan tumbuh secara timbal balik, karena swadaya dan tolong menolong adalah dua faktor mendasar yang menjadi inti dari falsafah perkoperasian.

Falsafah perkoperasian inilah yang sangat membedakan koperasi dari bangun usaha yang lain.

Prinsip-prinsip Sebagai Kerangka Kerja Koperasi

Prinsip-prinsip koperasi bukan sekedar untuk dipatuhi, tetapi juga sebagai alat pengukur bagi tingkah laku koperasi.

Lebih dari itu yang perlu terus dipertanyakan, adalah:

Sejauh manakah koperasi kita masih konsisten mengikuti semangat dari prinsip-prinsip koperasi?,

Apakah pandangan jauh (visi) yang terkandung di setiap prinsip atau sebagai keseluruhan telah meresap dalam berbagai kegiatan sehari-hari berkoperasi?.

Prinsip & Nilai Sebagai Kerangka Kerja Koperasi

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa prinsip-prinsip koperasi mestinya harus dilihat sebagai sebuah kerangka kerja yang memberdayakan koperasi untuk dapat meraih hari depan.

Prinsip-prinsip ini bukan merupakan ketentuan yang terpisah satu sama lain, tetapi harus dilihat dari keterkaitannya satu sama lain sebagai keseluruhan sistem yang utuh.

Tidak ada satu yang lebih penting dari pada yang lain, karena semuanya adalah sama pentingnya. Semua itu bersumber satu, yaitu nilai-nilai koperasi.(sumber dari http://adopkop.com/index.php?option=com_content&view=article&id=60:paradigma-nilai-dasar-dan-jatidiri-koperasi-dalam-era-globalisasi&catid=50:berita&Itemid=124)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s