Tata Bahasa Indonesia Serta Menulis Secara Baik dan Benar

BAB I

EJAAN BAHASA YANG DISEMPURNAKAN

Ejaan dan Kaidah Tata Tulis             

I.1 Ejaan

Secara umum, orang beranggapan bahwa ejaan berhubungan dengan melisankan. Hal ini terkait dengan makna kata mengeja (kata atau kalimat), yaitu menyebutkan huruf demi huruf pada kata atau kalimat itu. .

I.2 Kaidah Tata Tulis

Kaidah bahasa merupakan suatu himpunan beberapa patokan umum berdasarkan struktur bahasa.

Kaidah tata tulis terdiri dari :

  • Pemakaian huruf
  • Penulisan huruf
  • Penulisan kata
  • Pungtuasi (tanda baca)

Pemakaian Huruf Kapital Dan Huruf Miring

  1. Huruf Kapital
    1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
    2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
    3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Nabi Ibrahim

Pengecualian:

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:

Ampere, Wage Rudolf Supratman, Halim Perdanakusumah, Amir Hamzh

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

Mesin diesel, 10 volt, 5 ampere

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

Mengindonesiakan kata asing, keinggris-inggrisan

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:

tahun Hijriyah, bulan Maret, hari Lebaran, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Perang Candu

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya :

Asia Tenggara, Danau Toba, Terusan Suez, Tanjung Harapan

Pengecualian:

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya:

berlayar ke teluk, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya:

garam inggris, gula jawa, pisang ambon

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

Misalnya:

Republik Indonesia; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:

menjadi sebuah republik, menurut undang-undang yang berlaku

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:Perserikatan Bangsa-Bangsa, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, judul karangan kecuali kata di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:

  1. Dr.       doktor                                     Ny.      nyonya

M.A.    master of arts                          Sdr.      saudara

S.E.      sarjana ekonomi                      Prof.    Profesor

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya:

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Anis.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Surat Anda telah kami terima.

  1. Huruf Miring
    1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

majalah Bahasa dan Kesusastraan, surat kabar KOMPAS

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:

Huruf pertama kata abad ialah a.       Dia tidak membicarakan hal itu.

Dia bukan menipu, tetapi ditipu.         Buatlah kalimat dengan berlepas tangan!

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya:

Nama ilmiah padi ialah Oryza sativa.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Catatan: Dalam tulisan tangan, kata yang dicetak miring diberi garis di bawahnya.

PENULISAN KATA

  1. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya :

Ibu percaya bahwa engkau tahu.

 

  1. Kata Imbuhan
    1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya :

bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

  1. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.

Misalnya :

bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.

  1. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya :

menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan,penghancurleburan.

  1. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya :

adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, bikarbonat, biokimia,.

Catatan:

(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:

  • non-Indonesia
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
  1. Gabungan Kata
    1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya :

Duta besar,kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran

  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan

Misalnya :

Alat pandang-dengar,anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan,

  1. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

Misalnya :

Acapkali, adakalanya, Alhamdulillah, astagfiurllah, bagaimana, barangkali, bilamana, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, dan sebagainya

Kata Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sasekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur  serapan itu sebagai berikut.

  • ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

        haemoglobin                    hemoglobin

haematite                         hematite

  • c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

construction                      konstruksi

classification                     klasifikasi

  • cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accommodation                 akomodasi

accumulation                     akumulasi

  • ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon                              eselon

machine                             mesin

  • oe (oi Yunani) menjadi e
  • oestrogen                           estrogen
  • oenology                           enology

Singkatan dan Akronim

  1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a.       Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya :

Muh. Yamin, Sukanto S.A.

M. Sc.         master of science

S.E              sarjana ekonomi

Bpk.            Bapak

Sdr.             Saudara

b.      Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya :

DPR                Dewan Perwakilan Rakyat

KTP                 kartu tanda penduduk

Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya :

dll.                   dan lain-lain

dsb.                 dan sebagainya

c.       Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya :

TNT                 trinitrotoluene

kg                    kilogram

Rp (5.000,00)  (lima ribu) rupiah

2.      Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

a.       Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

Misalnya :

ABRI              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

b.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Misalnya:

Akabri             Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

c.       Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya :

pemilu             pemilihan umum

rapim               rapat pimpinan

Angka dan Lambang Bilangan

1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab                : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi           : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X

2.      Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.

Misalnya :

0,5 sentimeter                 1 jam 20 menit

5 kilogram                      pukul 15.00

Rp5.000,00                    50 dolar Amerika

3.      Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya :

Jalan Tanah Abang I No. 15

Hotel Indonesia, Kamar 169

4.      Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya :

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

5.      Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.       Bilangan utuh

Misalnya :

dua belas                  12

dua puluh dua          22

b.      Bilangan pecahan

Misalnya :

setengah                   ½

seperenam belas       1/16

6.      Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya :

Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalam kehidupan pada abad ke-20 ini; lihat Bab II, Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu.

7.      Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.

Misalnya :

tahun ’50-an                   atau tahun lima puluhan

uang 5000-an                 atau uang lima ribuan

8.      Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perician dan pemaparan.

Misalnya :

Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.

9.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya :

Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

Pak Darmo mengundang 250  orang tamu.

10.  Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya :

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.

11.  Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuintansi.

Misalnya :

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

12.  Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya :

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah)

Pemakaian Tanda Baca

  1. Tanda Titik (.)
    1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
    2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar yang bukan terakhir dalam deretan angka atau huruf tersebut.
    3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:

Pukul 1.35.20 (pukuk 1 lewat 35 menit 20 detik)

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

  1. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Pustaka.

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:

Gempa yang terjadi kemarin menewaskan 12.543 jiwa.

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Ia lahir pada tahun 1987 di Bandung.

  1. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara Kunjungan Presiden Obama

  1. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.

Misalnya:

Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)

Tanda Koma (,)

  1. Tanda koma dipakai di antara unsur- unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
  2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
  3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimat.

Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Saya tidak akan datang kalau hari hujan. (tanpa koma)

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk jadi, oleh karena itu, akan tetapi.

Misalnya:

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat dalam kalimat.

Misalnya:

Hati-hati, ya, nanti jatuh.

Wah, bukan main!

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya:

Kata Anis, “Saya gembira sekali.”

  1. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamt, (ii) bagian- bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama dan tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, Jalan Margonda Raya, Depok.

Surabaya, 10 Mei 1960

  1. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949.  Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

  1. Tanda koma dipakai di anatara bagian- bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:

W. J. S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

M. Ardski, S.E.

  1. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

Rp12,50                      12,5 m

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Misalnya:

Dosen saya, Pak Sugito, pandai sekali.

Semua mahasiwa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

  1. Tanda koma dapat dipakai-untuk menghindari salah baca-di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Atas bantuan Shinta, Yhana mengucapkan terima kasih.

  1. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karin.

  1. Tanda Titik Koma (;)
    1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:

Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

  1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kaliamat majemuk.

Misalnya:

Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik menonton televisi.

  1. 2Tanda Titik Dua (:)
    1. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian.

Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

2Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan,

Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

  1. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

Tempat            : Kampus D, Gd 451

Hari                 : Senin

Waktu             : 09.00

  1. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Amir    : “Baik Bu.” (mengangkat kompor dan berlari ke luar)

  1. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suartu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan (daftar pustaka).

Misalnya:

Tempo, I (1971), 34:7

Surah Yasin:9

  1. Tanda Hubung (-)
    1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah pergantian baris. Namun suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.

Misalnya:

Di samping cara-cara lama itu ada ju-

ga cara yang baru.

  1. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Kecuali akhiran –i.

Misalnya:

Kini ada cara yang bagus untuk meng-

ukur panas.

  1. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan

  1. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian tanggal.

Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a                  8-4-1988

  1. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

Misalnya:

Ber-evolusi

  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengn hurup kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan –an, (iv) singkatan berhuruf kapital dngan imbuhan / kata, dan (v) nama jabatan rangkap

Misalnya:

se-Indonesia, juara ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, Menteri-Sekretaris Negara

  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash, pen-tackle-an

F.   Tanda Pisah (–)

1.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya :

Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai–diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

2.      Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya ;

Rangkaian temuan ini–evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom–telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3.      Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan  arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.

Misalnya :

1910–1945

Jakarta–Bandung

G.  Tanda Elipsis (…)

1.   Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya :

Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.

2.   Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya :

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

H.  Tanda Tanya (?)

1.   Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

2.   Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diasingkan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya :

Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

I.       Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

J.    Tanda Kurung ((…))

  1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya :

Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

  1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya :

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya :

Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

  1. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya :

Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K.  Tanda Kurung Siku ([…])

1.   Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya :

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

3.      Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya :

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan) di dalam Bab II (lihat halaman 35-38) perlu dibentangkan di sini.

L.   Tanda Petik (“…”)

  1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya :

“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia.”

  1. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya :

Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

  1. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya :

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

  1. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya :

Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

  1. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya :

Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “Si Hitam”.

Bang Komar sering disebut “pahlawan”, ia sendiri tidak tahu sebabnya.

M.  Tanda Petik Tunggal (’…’)

1.   Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya :

Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

2.   Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Misalnya :

Feed-back ‘balikan’

N.  Tanda Garis Miring

1.   Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya :

No. 7/PK/1973

Jalan Kramat III/10

2.   Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.

Misalnya :

Dikirimkan lewat darat/laut             ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’

Harganya Rp25,00/lembar               ‘harganya Rp25,00 tiap lembar’

O.  Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ` )

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya :

Ali ` kan kusurati.    (`kan = akan)

Malam `lah tiba.          (`lah = telah)

BAB II

Pilihan Kata (Diksi) Dan Kalimat

Diksi merupakan pilihan kata dalam mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Penggunaan diksi yang tepat akan melahirkan suatu kalimat yang baik dan benar. Salah satu ciri kalimat yang baik dan efektif adalah terkait dengan kecermatan dan kesantunan. Penggunaan kata yang tepat (diksi) dapat diaplikasikan dalam berbagai hal. Penggunaan kata dalam surat, proposal, laporan, pidato, diskusi ilmiah, karangan ilmiah, dan lain-lain harus tepat dan sesuai dengan situasi yang hendak diciptakan.

Fungsi Diksi

            Beberapa fungsi diksi secara umum adalah sebagai berikut:

  1. melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal,
  2. membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca,
  3. menciptakan komunikasi yang baik dan benar,
  4. menciptakan suasana yang tepat,
  5. mencegah perbedaan penafsiran,
  6. mencegah salah pemahaman, dan
  7. mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

Syarat-syarat ketepatan pilihan kata:

  1. membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat,
  2. membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, kata yang hampir bersinonim misalnya: adalah, ialah, yaitu, merupakan, dalam pemakaian yang berbeda-beda,
  3. membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan) dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh, bunting) dan syarat (ketentuan),
  4. tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika pemahamannya belum dapat dipastikan, pemakai kata harus menemukan makna yang tepat dalam kamus, misalnya modern sering diartikan secara subjektif canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir; canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, bergaya intelektual,
  5. menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi,
  6. menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan,
  7. menggunakan kata umum dan kata khusus secara cermat,
  8. menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat,
  9. menggunakan dengan cermat kata yang bersinonim, berhomofon, dan berhomografi,
  10. menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat.

Syarat kesesuaian kata adalah sebagai berikut:

  1. menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukkan penggunaannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku),
  2. menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan),
  3. menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya…tetapi juga (salah), bukan hanya…melainkan juga (benar),
  4. menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: merah darah, merah hati,
  5. menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah, dan komunikasi nonilmiah menggunakan kata popular, misalnya: argumentasi (ilmiah), pembuktian (popular), dan
  6. menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis, misalnya: tulis, baca, kerja (bahasa lisan), menulis, menuliskan, membaca, membacakan, bekerja, mengerjakan, dikerjakan (bahasa tulis).

Makna Denotatif dan Makna Konotasi

Makna denotatif adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif sering juga disebut makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) faktual dan,  makna sebenarnya, dan makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan makna kias.

Makna konotatif adalah makna kias, bukan sebenarnya dan dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain dan berubah dari suatu masa ke masa yang lain. Makna konotatif cenderung bersifat subjektif  dan dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.

Kata Abstrak dan Kata Konkret

Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindera disebut konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara.  Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap pancaindera, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian.

Contoh:

Aku hafal betul dengan wangi parfumnya. (kata konkret)

Meski merasa kecewa karena gagasannya diacuhkan begitu saja, Roro tetap mengikuti rapat OSIS. (kata abstrak)

Kata Umum dan Kata khusus

Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum sifatnya. Sebaliknya, makna kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya.

Sinonim

            Sinonim adalah persamaan makna kata, artinya dua kata atau lebih yang berbeda bentuk, ejaan, dan pengucapannya memiliki makna yang sama.

Idiomatik

Idiomatik adalah konstruksi yang khas pada satu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti, misalnya, sehubungan dengan, berhubungan dengan, sesuai dengan, bertepatan dengan, sejalan dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan lain-lain.

Nominalisasi

Nominalisasi atau disebut juga substantivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata, yaitu dari kelas kata lain menjadi kata benda.

Berdasarkan kelas katanya:

  • Nomina deverbal merupakan hasil dari proses perubahan kelas kata dengan dasar verba (kata kerja) menjadi nomina (kata benda).

Misalnya:

Asal Kata Hasil Nominalisasi yang Bermakna
Pelaku Proses Hasil
Membeli Pembeli Pembelian Belian
  • Dari sebuah adjektiva (kata sifat) dapat dilakukan nominalisasi.

Misalnya :

Asal Kata Hasil Nominalisasi yang Bermakna
Pelaku Keadaan
Damai Pendamai Kedamaian
  • Nomina denumeral merupakan hasil nominalisasi yang berasal dari kata bilangan menjadi kata benda.

Misalnya : satu → kesatuan

Kalimat

 

            Pengertian Kalimat

Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek dan predikat.

Kalimat yang Benar, Santun, dan Efektif

Kalimat dikatakan benar, santun, dan efektif bila memenuhi batasan-batasan di bawah ini, yaitu:

a.         keutuhan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat (berkaitan dengan unsur gramatikal, yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, pelengkap)

b.        kesejajaran yang berarti kesamaan bentuk kata yang digunakan secara konsisten

c.         kefokusan pesan agar maknanya mudah dipahami

d.        kelogisan kalimat

e.         kehematan kalimat yang dilihat dari setiap unsur kalimat yang harus berfungsi dengan baik

f.         kecermatan menggunakan diksi

g.        kevariasian struktur, diksi, dan gaya namun tidak mengubah makna kalimat,

h.        ketepatan diksi yang mengungkapkan pikiran secara tepat, dan

i.          ketepatan ejaan dan tanda baca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Kalimat Efektif Dan Kalimat Turunan

KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan maksud penutur/ penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar/ pembaca secara tepat pula.

CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF

v  KESATUAN GAGASAN

Yang dimaksud dengan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Sebuah kalimat harus memiliki subyek, predikat, serta unsur-unsur lain (Objek/ Keterangan) yang saling mendukung serta membentuk kesaruan tunggal.

v  KESEJAJARAN/ KEPARALELAN

Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama jenis katanya, pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.

v  KEHEMATAN

Yang dimaksud dengan kehematan ialah adanya upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Dengan hemat kata, kalimat akan menjadi padat berisi dan tidak akan merubah maksud kalimat.

v  KELOGISAN

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah terdapatnya arti kalimat yang logis/ masuk akal. Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian tanda baca, kata, atau frasanya, dapat menjadi salah jika maknanya lemah dari segi logika berbahasa.

v  KEPADUAN (KOHERENSI)

Yang dimaksud dengan koerensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk pembentuk kalimat adalah frasa, klausa, tanda baca, dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-Ket).

v  KETEPATAN

Yang dimaksud dengan ketepatan adalah kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membentuk kalimat sehingga tercipta pengertian yang bulat dan pasti

A.      JENIS KALIMAT MENURUT JUMLAH KLAUSANYA

Menurut jumlah klausa pembentuknya, kalimat dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kalimat tunggal, (2) kalimat majemuk atau kalimat turunan.

Kalimat tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu klausa. Karena klausanya yang tunggal maka dinamai kalimat tunggal. Seperti telah dijelaskan, unsur S dan P adalah penanda klausa. S dan p selalu wajib dalam setiap kalimat.

Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dua atau lebih kalimat tunggal. Hal itu berarti dalam kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa. Kalimat majemuk terdapat dua macam yaitu:

Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara   mempunyai ciri ;

1.      Dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal

2.      Kedudukan tiap kalimat sederajat

Contohnya:

v  Seorang manajer harus mempunyai wawasan yang luas dan

S                        P1                           O1

harus menjunjung tinggi etika profesi .

            P2                               O2

Kalimat majemuk bertingkat

Konstruksi kalimat majemuk bertingkat berbeda dengan kalimat majemuk setara. Perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentuknya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama.

Contohnya:

v  Anak-anak bermain layang-layang di halaman kampus ketika

S1               P1               O1                     Ket

para dosen, karyawan, dan mahasiswa menikmati hari libur .

S2                                    P2            O2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Alinea dan Pengembangan Alinea

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,Edisi ke-3,dari terbitan Departemn Pendidikan Nasional tertera penjelasan bahwa alinea adalah bagian wacana yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap atau satu tema yang dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok kedalam atau jarak spasi yang lebih.Dalam kamus tersebut alinea diartikan pula sebagai paragraf.

Menurut pengamatan penulis,ada beberapa ciri atu karakteristik alinea antara lain,sebagai berikut.

 Setiap alinea mengandung makna,pesan,pikiran,atau ide pokok yang relevan dengan ide pokok keseluruhan karangan.

 Alinea umumnya dibangun oleh sejumlah kalimat.

 Alinea adalah satu kesatuan ekspresi pikiran.

 Alinea adalah kesatuan yang koheren dan padat

 Kalimat-kalimat alinea tersusun secara logis-sistematis.

alinea berfungsi sebagai berikut :

  1. Sebagai penampung dari sebagian kecil jala pikiran atau ide pokok keseluruhan karangan
  2. Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok pengarang.
  3. Alat bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikiran secara sistematis.
  4. Pedoman bagi pembaca untuk mengikuti dan memahami alur pikiran pengarang.
  5. Sebagai penyampai pikiran atau ide pokok pengarang kepada pembaca.sebagai penanda bahwa piiran baru dimulai
  6. Dalam rangka keseluruhan karangan,alinea dapat berfungsi sebagi pengantar,transisi,dan penutup (konklusi).

UNSUR-UNSUR ALINEA

Transisi

Transisi adalah mata rantai penghubung antar alinea.Transisi berfungsi sebagai penghubung jalan pikiran dua alinea yang berdekatan. Oleh karena itu,beberapa orang sering mengatakan bahwa transisi berfungsi sebgai penunjang koherensi dan kesatuan antarbab,antarsubbab,dan antaralinea dalam suatu karangan.

Kalimat Topik

Dalam bahasa Indonesia ,kita pun mengenal istilah-istilah,seperti pikiran utama,pokok pikiran,ide pikiran,dan kalimat pokok.keempat-empatnya juga mengandung makna yang sama,yaitu mengacu pada kalimat topik. Kalimat topik adalah perwujudan pernyataan ide pokok alinea dala bentuk umum atau abstrak.

Kalimat Pengembang

Susunan kalimat pengembang tidak sembarangan.Urutan kalimat pengembang sebagai perluasan pemaparan ide pokok yang bersifat abstrak menuruti hakikat ide pokok.Pengembangan kalimat topic yang bersifat kronologis,biasanya menyangkut hubungan antara benda atau kejadian dan waktu.Urutannya masa lalu,kini,dan yang akan datang.

Kalimat Penegas

Fungsi kalimat penegas ada dua.Pertama,kalimat penegas sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topik.Kedua,kalimat penegas sebagia daya penarik bagi para pembaca atu sebagai selingan untuk menghilangkan kejemuan.

JENIS-JENIS ALINEA

Berdasarkan penempatan ide pokok pada alinea,dapat ditentukan jenis alinea yang akan dibuat.

a.Alinea deduktif

Apabila ide pokok di tempatkan pada bagian awal alinea,maka alinea ini disebut deduktif.

b.Alinea induktif

Apabila ide pokoknya ditempatkan pada bagian akhir,maka alinea ini disebut induktif.

c.Alinea campuran

Alinea yang ide pokoknya secara simultan ditempatkan pada bagian awal dan akhir disebut alinea campuran.Biasanya ide yang terdapat pada bagian akhir merupakan pengulangan ide yang terdapat pada bagian awal.

d.Alinea deskriptif                    

Pada jenis alinea ini ide pokok tidak ditempatkan pada salah satu kalimat yang membangun alinea karena tidak ada satu pun yang lebih penting daripada ide lainnya.ide pokoknya merupakan kesimpulan tersirat yang tidak dicantumkan pada alinea tersebut.jadi,ide pokok disini tidak dinyatakan secara eksplisit.

KRITERIA ALINEA

Bila kita berbicara tentang kualitas suatu alinea,mau tidak mau kita dihadapkan pada seperangkat syarat-syarat alinea yang baik.Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar alinea termasuk kategori baik,di antaranya:

(1) Satu alinea terdiri atas beberapa kalimat.

(2) Alinea trsebut mengandung satu ide pokok.

(3) Ide yang diungkapkan dalam kalimat-kalimat yang membangun alinea tersebut saling berkaitan sehingga terlihat koherensi secara berkesinambungan,sereta urutan yang logis dan runtun.

(4) Pengungkapan kelompok ide dalam alinea tersebut merupakan satu kesatuan yang padu.

(5) Alinea tertulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

(6) Struktur alinea harus bervariasi disesuaikan dengan latar belakang pembaca,sifat media tempat alinea (karangan) diterbitkan serta sifat dan tuntutan kalimat topik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s